Tongkat Ali vs Pasak Bumi

Yong Peng, sebuah distrik (semacam kecamatan) yang letaknya sekitar 100 km dari pusat Kota Johor Bahru. Dalam perjalanan dari JB ke Melaka kami singgah, lebih tepatnya dipaksa singgah oleh tour guide untuk makan siang dan belanja oleh-oleh.

yong peng
Letak Distrik Yong Peng

Bas persiaran yang kami tumpangi berhenti di sebuah toko yang cukup besar, toko sekaligus pabrik (tempat produksi) pikir saya.

Toko Yoyo Kedai Produk Makanan Tempatan, begitu tulisan pada papan namanya. Begitu masuk toko, sudah tercium aroma kue-kue yang menggoda.

tripadvisorcouk
Yoyo Native Food (tripadvisor.co.uk)

Beragam tester kami coba, begitulah cara mereka menarik pembeli. Dari segi pelayanan ya kurang lebih sama denga toko cokelat di KL, mereka dengan nada teriak menjelaskan produk-produknya. Ratusan kue, snack, camilan hingga minuman macam teh tarik dijual di toko ini.

Satu yang ingin saya bahas di sini adalah tentang packaging. Hampir semua produk yang dijual di toko ini dikemas dengan cantik. Satu hal yang belum saya temukan di Indonesia, di Bali sekalipun yang notabene industri pariwisatanya terbilang paling maju untuk ukuran Indonesia.

tai yang bing dessertingbeauty blogspot
Tai Yang Bing, enak sekali tastenya (dessertingbeauty.blogspot.com)
yoyo liltinypea blogspot
Kasir Yoyo, siap menguras ringgit anda (liltinypea.blogspot.com)
yongpengtravelcom
suasana dalam toko (yongpengtravel.com)

Di sebuah sudut, terlihat bapak-bapak mengerumuni seorang pramuniaga yang dengan semangat menjelaskan sebuah produk minuman sambil membagikan tester dan brosur. Saya coba minum dan ternyata pahit, ternyata itu air rebusan tongkat ali. Saya makin penasaran dan coba nanya berape harganye mak cik ?, pakai logat melayu berharap dikasih murah wkwkwk..

Ternyata harga udah dibanderol RM100 dan didiskon 5%. Artinya saya harus bayar RM95 untuk 30 gr pasak bumi, omaigod. Oh ya, kurs waktu itu 1 Ringgit sama dengan Rp. 3.600. Jadi RM100 setara dengan Rp. 360.000,- Bayangkan, di Martapura akar pasak bumi dengan berat yang sama, mungkin harganya tak sampai Rp. 50.000. Ketika saya bilang mahal sekali mak cik, dia pun melawan, ini bisa untuk pemakaian 6 bulan katanya. Dengan perasaan dibodohin orang Malaysia, akhirnya ya sudahlah nyerah beli 1 pack. Bayar deh Rp. 342.000 (harga setelah diskon).

Oh ya, Tongkat Ali atau kita sebut pasak bumi, atau nama ilmiahnya Eurycoma Longifolia konon sudah dipatenkan oleh negara jiran kita ini. Lagi-lagi kita kalah cepat dengan mereka, tongkat ali yang kita kenal dengan akar Pasak Bumi dan banyak tumbuh di Kalimantan dan mungkin seluruh Indonesia ini sudah duluan dipatenkan Malaysia.

Saya jadi ingat di Martapura dan hampir semua toko oleh-oleh di Banjarmasin menjual pasak bumi dengan berbagai bentuk sebagai oleh-oleh khas Kalsel. Saya pernah membeli (karena penasaran aja sih) dengan bentuk gelas. Jadi tinggal kita tuang air panas dan ditunggu beberapa menit baru airnya kita minum. Sama-sama pahit rasanya, cuma kenapa harganya jauh sekali berbeda. ? Hampir 10 kali lipat bahkan.

Kira-kira ini jawaban pertanyaan saya tadi :

Tongkat ali produk Malaysia ini dari segi pengolahannya terlihat lebih higienis. Kemudian produk dikemas dengan kemasan yang menurut saya eksklusif, mirip dengan kotak jam tangan atau perhiasan lainnya. Pasak bumi di Martapura dijual bahkan tanpa kemasan, dibiarkan telanjang, kena debu atau kotoran lainnya. Saya beli akar pasak bumi berbentuk gelas dengan tutup ukuran kecil, kalo nggak salah waktu itu harganya Rp. 20.000.

Dalam kemasan Tongkat Ali juga ada label halal, isi kandungan dan berat bersihnya, pokoknya lengkap. Tentu hal ini menambah daya saing untuk semakin meyakinkan pembeli.

20150421_082913_resized
si Tongkat Ali dari Malaysia (dokpri)
20150421_081510_resized_1
si tongkat ali dari Martapura, tutupnya diiket tali rafia dan tanpa kemasan apapun (dokpri)
20150421_081458_resized
Penampakan packaging luarnya, menarik (dokpri)

Begitulah, ketika sebuah produk sudah diproduksi dengan baik, dikemas dengan menarik, harganya pun bisa berkali-kali lipat.

Sebenarnya sudah ada juga produk oleh-oleh Indonesia yang dikemas dengan baik dan menarik, macam brownies kukus Amanda, Cokelat Monggo dll. Tapi secara umum, oleh-oleh kita masih banyak yang belum terkemas dengan baik dan menarik. Nggak usah jauh-jauh, lihatnya ke Malaysia, betapa si tongkat ali ini menohok kita.

#secuil cerita dari kota kecil Yong Peng.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *