Pulau Kumala yang (Seharusnya) Cantik

Tanggal 26 April 2016 lalu untuk kedua kalinya saya menjejakkan kaki di Pulau Kumala, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Sebelumnya, tahun 2004 saya pernah ke lokasi yang sama. Waktu itu saya masih tinggal di Samarinda sehingga dengan mudah mencapai Tenggarong. Jembatan Kukar juga masih jembatan yang lama (Jembatan Gerbang Dayaku).

Waktu itu saya sempat naik sky tower setinggi 75 meter, hal yang tak bisa saya lakukan pada kunjungan saya yang kedua. Konon sky tower sedang dalam “perawatan.” Kereta gantung juga sudah tidak beroperasi lagi. Sejak kapan, entah, tak ada info yang saya peroleh.

12092010083
Denah Pulau Kumala (net)
index
Sky Tower yang dulu pernah saya naiki (net)
kereta-gantung-pulau-kemala-tenggarong-kalimantan-timur
Kereta Gantung, riwayatmu kini (net)
pulau-kumala
Patung Lembuswana yang Iconic dari kejauhan (net)

Konon PT. El John sebagai pengelola memutuskan untuk tidak lagi mengelola Pulau Kumala. Sayapun tak tahu persis apakah buruknya kondisi Pulau Kumala sejak masih dikelola PT El John atau setelah ditinggalkan PT. El John, tak ada yang bisa menjelaskan. Mungkin sama gelapnya dengan penyebab runtuhnya jembatan Gerbang Dayaku di tahun 2011.

Siang itu, sambil menunggu pertunjukan Planetarium  di Tenggarong, kami memutuskan untuk menuju Pulau Kumala, sekaligus mencoba jembatan Reporepo yang baru saja diresmikan oleh Bu Bupati.

Dengan membayar tiket masuk seharga Rp. 7.000,- per orang kami pun menaiki anak tangga jembatan repo-repo. Karena terik panas siang ini, kami bertiga menyewa payung seharga Rp. 10.000,- yang dapat kami bawa hingga pula Kumala.

Suasana cukup ramai, mungkin euforia masyarakat mencoba jembatan yang baru beberapa hari diresmikan.

Karena waktu kami pendek, takut nggak kekejar nonton pertunjukan di Planetarium, kami memutuskan untuk naik mobil wisata untuk mengelilingi pulau seluas 76 hektar ini. Nggak mungkin kalau kami harus berjalan kaki mengitarinya. Oh ya, sebelumnya kami mau naik kereta api mesin dengan tiket Rp. 20.000 per orang, tapi karena kereta tidak juga penuh akhirnya kami cancel. Akhirnya kami memilih mobil wisata, justru tiketnya lebih murah yakni Rp. 10.000,- per orang.

Kami ikut mobil mengitari Pulau Kumala, sekedar mengitari tanpa ada penjelasan apapun dari driver. Harusnya driver bisa diupgrade sekaligus menjadi guide yang bisa menjelaskan tentang Pulau Kumala ini. Sepanjang jalan saya mencoba mengamati beberapa objek seperti cottage, kolam renang, dan beberapa wahana lain.

Rasanya cukup dua kata untuk menggambarkan semuanya yaitu “kurang terawat.” Beberapa bangunan cottage miring, diselimuti rumah rayap, mesin-mesin AC berkarat tanda tak pernah dibersihkan. Konon Cottage ini bernama DJS Resort dilengkapi kolam renang, spa dll. Entah seperti apa nasibnya sekarang.

Terlihat juga beberapa “bangkai” sepeda air, kereta api mini dan berbagai macam perlengkapan wahana yang tidak terpakai.

Saat saya menanyakan apakah sky tower dan kereta gantung masih berfungsi, driver menjawab “sedang perawatan.” Dalam hati saya menebak pasti sudah rusak dan tidak berfungsi.

Terlihat juga rumah adat Dayak Lamin yang berdiri kokoh di sebuah area. Ada juga spanduk yang mencanangkan Pulau Kumala sebagai Kampung Inggris dll.

Kami diajak berhenti di sebuah tempat untuk sekedar mengambil gambar dan selfie. Tepatnya di candi atau Pura Pasak Pulau namanya. Selepas foto-foto, kami diajak berhenti di wahana permainan boom-boom car dan gokart. Sayang, kami semua dalam satu mobil tidak ada yang berminat. Bagi kami sudah cukup dengan melihat kondisi yang ada….

Pemandangan kondisi pulau ini kontras dengan pemandangan di seberang. Terlihat berdiri dengan megah Stadion Aji Imbut yang merupakan markas Klub Mitra Kukar. Bahkan malamnya, komplek stadion akan sangat meriah dengan kehadiran Group Music International MLTR yang akan tampil sebagai bintang tamu acara RIB (Rock In Borneo).

Setelah puas mengitari pulau, akhirnya kami kembali menyeberang melalui Jembatan Repo-repo untuk destinasi kami selanjutnya yakni wisata kampung tengah di Rumah Makan Tepian Pandan yang legendaris itu.

Sambil melintasi jembatan repo-repo, saya masih berharap suatu saat datang lagi ke Pulau Kumala dengan kondisi yang lebih baik, secara fisik maupun pengelolaannya. Sayang aset yang bagus ini tidak terurus. Semoga saat saya datang lagi nanti, entah kapan, kondisi Pulau Kumala sudah cantik lagi, secantik bupatinya… hehe…

?
di depan pura (dokpri)

 

?
semacam singgasana di puncak (dokpri)
kumala3
singgasana bersama ratunya hehe… (dokpri)
kumala4
penjaga pintu pura (dokpri)
kumala5
mobil wisata Pulau Kumala (dokpri)

Creative Park di tepian Mahakam (dokpri)

Stadion Aji Imbut dari Pulau Kumala
Stadion Aji Imbut dari Pulau Kumala
tenggarong2
Creative Park di Tepian Mahakam (dokpri)
tenggarong3
View cantik dengan latar belakang jembatan repo-repo (dokpri)
Spot foto di tepian Mahakam (dokpri)
Spot foto di tepian Mahakam (dokpri)

9 thoughts on “Pulau Kumala yang (Seharusnya) Cantik”

  1. Ya begitulah pulau kumala,, semangat yang datang hanya mula” saya bermimpi pulau kumala akan secantik DISNEYLAND

    1. Sy senang baca tulisan anda terutama ttg pngurusan paspor on line dulu sy petnah ngrus pake biro jasa, terus terang krn sy gaftek apakh masih ada biro jasa d imigrasi bjm klo ada bs mnta no telpnx.Nama dn nope biro jasa yang trdahulu sdh terhapus krn hp sy eror sdng no ktr imigrasi telpnx 477058 ga bisa di hub.tks bntua
      nny ya pa.dri sy Rahmawati emil sy kayanx dah ga berfungsi

      1. Nah untuk biro jasa saya nggak ada yang kenal Mbak. Menurut saya nggak usah pakai biro jasa, tinggal datang langsung isi formulir dan antri. Asal persyaratannya lengkap insyaallah lancar aja.
        Untuk permohonan online saat ini juga TIDAK BISA, sistem sedang diperbaiki.
        Salam

  2. coba bekerjasama dengan transstudio atau pengembang dari pengelola ANCOL jakarta, wahana yg ada di perbaiki dan di tambah dengan wahana menarik lainnya. saya yakin banyak pemikir kreatif dari kukar untuk pengembangan ini.

  3. saya pun berkomentar serupa pas kemarin datang ke pulau kumala… sayang bangeeeeeet tidak terawat dengan baik.. bahkan ketika saya datang, hanya bisa selfie, semua wahana tidak berfungsi.. sedihnyaaaaa…

    1. iya sayang banget, dulu sempet naik wahana tower pada saat baru dibangun. Gak ada harapan lagi, apalagi bupatinya kena KPK hehe… Berdoa aja ada investor lagi nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *