10 Tempat Makan Enak di Jogja

Spread the love

Buat saya, memilih 10 tempat makan dari ratusan tempat makan yang ada di Jogja adalah pekerjaan yang sangat sulit.. Kenapa sulit ? Ya gimana nggak sulit wong semua makanan di Jogja itu enak-enak.

Ketika disuruh memilih menjadi 10 tempat, bukankah itu pekerjaan sulit. Apapun alasannya, saya harus melakukannya. Sekali lagi ini hanya untuk memandu anda semua yang bukan orang Jogja. Tapi jika anda punya banyak waktu di Jogja, maka puas-puaskanlah, sampe perut anda mbledos sekalipun hehehe…

Kali ini saya sajikan tempat makan khas Jogja, lebih tepatnya makanan “rumahan,” bukan yang tempat kekinian ya. Bahkan beberapa justru kekunoan, tapi selain lezat, tempatnya juga ngangeni. Itulah Jogja

  1. Bakmi Mbah Mo

Tempatnya nun jauh di sana, daerah Bantul. Dari kota Jogja perlu waktu sekitar 30 menit menuju Desa Code, Bantul ini. Tapi meski jauh dan berada di tengah kampung, tempat makan ini selalu ramai. Bahkan pembeli harus rela antri untuk mendapatkan sepiring bakmi godog atau bakmi goreng Mbah Mo. Cara masaknya lah yang menyebabkan antrian panjang ini, yakni bakmi di warung ini dimasak satu persatu, tidak digabung.  Selain itu, cara masaknya juga menggunakan tungku sehingga rasa dan aromanya benar-benar terasa khas.

Buka mulai jam 5 sore hingga 11 malam.  Bagi anda yang baru pertama kali datang, saya sarankan  ambil waktu sore (pas baru buka) saja. Supaya anda tidak terkaget-kaget mendapatkan 20 antrian bakmi di sana.

Mas Butet Kertaradjasa dalam sebuah bukunya menulis bahwa ayahnya, mendiang Pak Bagong merupakan pelanggan Bakmi Mbah Mo semasa hidupnya. Beliau jika datang sore karena tidak mau disiksa antrian yang terkadang sangat panjang. Menu khusus Pak Baging ini mihun, diberi kecap, daging dan kulit ayam plus brutu, padahal aslinya masakan Mbah Mo nggak pakai kecap, supaya tampilannya tidak pucat saja katanya.

Makanya kalau sekarang saya jajan ke situ, ordernya mihun goreng kayak pak Bagong, tanpa brutu, lanjutnya.

Penampakan Warung Bakmi Mbah Mo
Penampakan Warung Bakmi Mbah Mo (dokpri)
  1. Gudeg Pawon

Namanya saja gudeg pawon. Pawon dalam kosa kata bahasa Jawa artinya dapur. Begitulah, Mbah Prapto yang sudah mulai berjualan gudeg sejak tahun 1958 itu melayani pembelinya langsung dari dapur. Begitu pintu dibuka, maka pembeli akan langsung menyerbu ke dapur untuk mendapatkan seporsi gudeg buatan Mbah Prapto. Hal yang tidak lazim ini justru menjadi trademark dari gudeg pawon.

Hal lain yang juga aneh adalah, warung gudeg ini beroperasi mulai pkl 22.00 hingga dini hari. Tapi jangan dibayangkan mbah Prapto harus berjualan berjam-jam hingga subuh. Boleh percaya boleh tidak, dalam tempo 3 jam, biasanya seluruh baskom tempat gudeg, krecek dan lauk lainnya sudah ludes diserbu pembeli yang merupakan makhluk-makhluk malam   hehe..

Gudeg Pawon ada di sebuah gang di Jalan Janturan, Warung Boto.

IMG-20160412-WA0018
Menu lengkap (istimewa)
  1. Sate Klathak Pak Pong

Entah mulai kapan, Jalan Imogiri Timur di Jogja menjadi sentra warung sate kambing. Yang jelas, saat ini puluhan warung sate kambing beroperasi di sana.

Sate kambiing boleh dibilang hampir semua daerah ada, termasuk menu sejuta umat. Lalu ada istimewanya sate klathak.

Satu klathak yang saat ini populer termasuk miskin bumbu. Bumbunya hanya garam dan merica. Tapi dengan bumbu yang minimalis, ternyata rasanya justru lezat dan sangat bersahabat di lidah. Terbukti warung sate Pak Pong yang berada maish di kawasan Jalan Imogiri Timur, tepatnya perempatan Wonokromo belok ke kanan (Barat) menuju Stadion Sultan Agung Bantul ini selalu padat pengunjung.

Selain bumbu yang minimalis, keunikan lain adalah tusuk sate. Tusuk satenya bukan berupa bilah bambu yang di bikin runcing, melainkan jeruji sepeda. Horor ? Nggak juga… Justru ini yang menjadi keseruan sendiri.

Konon pemilihan jeruji sepeda sebagai tusuk sate adalah  bumbu yang sudah dimasukkan kedalam daging bisa matang dengan sempurna.

Nah, bagi yang belum pernah mencoba., porsi sate klathak Pak Pong pun hanya berisi 2 tusuk sate saja. Tapi oleh karena potongan dagingnya yang agak besar, 2 tusuk sate tersebut pas untuk menemani sepiring nasi.

Anda bisa memesan teh gula batu sebagai pelengkap makan anda.

sate-pak-pong
Tempatnya
IMG-20160412-WA0012
Menu lengkap dengan teh nas gi thel (istimewa)
  1. Sego Brongkos Handayani

Bagi yang belum kenal dengan jenis makanan ini mungkin akan mengira sama dengan rawon. Sama-sama hitam karena menggunakan kluwak  sebagai salah satu bahan bumbunya. Namun yang membedakan brongkos dengan rawon adalah santannya. Santan dalam brongkos tidak hanya berfungsi sebagai kuah, akan tetapi untuk menimbulkan rasa gurih dan menambah kelezatan masakan asal Demak ini.

Nasi brongkos beserta lauk berupa telur, telur asin, ayam bacem dan lainnya tersedia lengkap di warung pasangan Adiyo Utomo dan Sardiyem ini. Mereka telah berjualan pecel sejak tahun 1960 secara berkeliling dan mulai menetap di Gading sejak 1975 hingga sekarang. Selain brongkos, warung ini juga menyediakan pecel dan soto ayam, tapi yang most wanted adalah nasi brongkos.

Sego Brongkos Handayani (kabarkuliner)
Sego Brongkos Handayani (kabarkuliner)

Jika anda mengitari Alun – Alun Kidul (Alkid) Yogyakarta, nah warungnya persis di pojok jalan menuju Plengkung Gading. Buka mulai pukul 07.00 sd 16.00 WIB.  Kini sepeninggalan Adiyo Utomo dan Sardiyem, warung dikelola oleh ketiga anaknya Tri Suparmi, Haryanto dan Respati Andayani.

Nama warung Handayani sendiri merupakan nama anak kelima yaitu Respati Andayani yang saat ini juga ikut mengelola warung.

Nasi brongkos… ini masakan ndeso favorit saya.

  1. Mangut Lele Bu Is

Masih ingat dengan gempa Jogja Mei 2006 yang lalu ? Ya, gempa itu meluluhlantakkan sebagian Jogja dan sebagian besar Bantul. Tak terkecuali warung mangut lele Bu Is yang berada di Jalan Imogiri Barat, Jetis, Bantul. Masakan yang sudah siap disajikan untuk hari itu ikut berantakan tak bersisa.

Tapi hebatnya Bu Is tidak larut dalam kesedihan. Iswanto, anak pertama Bu Is mengatakan mereka hanya tutup 2 minggu, setelah itu buka kembali.

Saat ini dia yang lebih banyak mengurusi warung yang sudah buka mulai 1977 itu. Kini Bu Is lebih banyak berada di rumah dan hanya meracik bumbu.

Setelah digoreng kemudian lele tersebut dimasak dengan kuah santan. Beberapa bumbu yang digunakan untuk memasak mangut adalah bawang putih dan merah, daun salam, laos, kencur, cabai, garam, kencur, jahe.

Agar lele tidak amis saat dimasak, ada rumusnya. Sebelum lele dibetheti (disiangi), terlebih dulu lele diberi garam. Maka lendir yang ada disekujur tubuh lele akan hilang, dan pada saat digoreng akan menimbulkan efek garing dan kering, kemripik.

Jika anda memesan mangut lele, anda tidak hanya akan mendapatkan mangut lele saja, tetapi juga hidangan pendamping yang telah menjadi “pasangan” saat menikmati mangut lele.

Hidangan pendamping tersebut berupa oseng-oseng lombok ijo, lalapan yang terdiri atas sayur-sayur segar yang telah seperti daun pepaya dan bayam yang telah direbus, kecambah, kemangi, kecipir, daun untas, daun puyang. Nah tentang oseng-oseng lombok ijo ini saya punya pengalaman buruk di warung Bu Is. Saya kira oseng-oseng kacang, dengan pedenya mengambil banyak, begitu masuk mulut ternyata lombok ijo… haha..

Kita bisa juga mencampur sayur-sayur tersebut dengan parutan kelapa berbumbu sehingga menjadi trancam. Ada juga sambal terasi sebagai pelengkap makan mangut lele. Di sini juga ada tempe koro, dan ketela kluwo (dimasak dengan gula jawa) yang juga menjadi favorit para pengunjung. Selain itu juga ada baceman tahu dan gembus, pokoknya lengkap. Harganya..? Mana ada warung di Bantul yang bikin kantong kempes. 🙂

Mangut Lele Bu Is (jajanjogja)
Mangut Lele Bu Is (jajanjogja)
  1. Angkringan Lik Man

Ada yang bilang, angkringan merupakan salam pembuka bagi siapa saja yang baru berkunjung ke Jogja. Konon mahasiswa, wartawan, seniman hingga preman dan waria sudah sangat akrab dengan angkringan yang berdiri sejak tahun 1968 ini. Jauh sebelum saya lahir hehe…

Angkringan Lik Man benar-benar otentik, memakai pikulan bambu melengkung seperti penjual sate. Dua kotak yang ada dikiri dan kanan berfungsi sebagai tempat tungku dan beragam hidangan. Tungku itu selain berfungsi untuk memanasi air juga untuk memanggang baceman kepala, ceker ayam dan jadah sesuai permintaan pembeli. Selain 2 menu tadi, yang juga most wanted adalah sego kucing yang hanya nasi sekepal tangan persis makanan kucing berlauk sambal, oseng tempe, bihun dan sepotong ikan asin. Jajanan lainnya adalah tahu susur, tempe mendoan, tempe dan tahu bacem, sate usus, jadah dan rambak.

Minuman yang menjadi pasangan menu tadi adalah teh “nasgithel “ (panas, legi, kenthel) atau juga kopi joss yang terkenal itu. Dua minuman ini bisa menyebabkan badan kita gembrobyos serta tubuh menjadi segar.

Kopi joss sendiri merupakan kopi curah yang masih kasar. Kopi yang sudah diseduh lalu dicemplungi potongan arang membara yang dipungut dari tungku.

Lik Man  yang bernama asli Sugiman duduk di tengah dengan kursi kecilnya (dingklik) dan mengendalikan angkringannya dari jam 3 sore sampai subuh, sembari menahan kantuk. Angkringan Lik Man di pojok timur laut Stasiun Tugu Jogja merupakan salah satu icon kuliner legendaris Jogja. Warung bersahaja itu konon yang mengilhami Katon Bagaskara menulis lik lagu Yogyakarta…. Ramai kaki lima, Menjajakan sajian khas berselera, Orang duduk bersila….

jogjalogica blogspot
Menu snagkringan Lik Man (jogjalogica)
garagara id
Kopi Joss (garagara.id)
  1. Pecel Mbah Warno

Menuju warung pecel Mbah Giyah penuh perjuangan, panjang dan berliku. Namun diteduhkan oleh rindangnya pohon  di kaki Gunung Sempu, bukan gunung sebenarnya, mungkin lebih cocok disebut bukit J Gunung Sempu dulu digunakan sebagai pemakaman warga Tionghoa, kayaknya sampai sekarang.

tribunnewsdotcom
Pecel Mbah Warno (tribunnews)
baywatch2
Belut gorengnya tidak hanya enak, tapi uueeenak (dokpri)
baywatch1
Foto Terbaru Juli 2016 pas kesana, simbah sedang tidur hehe (dokpri)

Sesampai di Pabrik Gula Madukismo, ambil arah Barat, setelah jembatan langsung ke kiri memotong rel lori (pengangkut tebu). Jalannya agak menikung dan naik. Terus saja ikuti jalan itu, nanti ketemu gapura rumah pelukis kondang Joko Pekik. Setelah itu ikuti saja jalan berkelok-kelok hingga ketemu lapangan bola, jalannya agak menurun. Nah warung pecel lele mbah Giyah ada di kanan jalan. Nama daerahnya desa Sendang, Sembungan, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tulisannya di situ Warung Pecel  Welut & Lele Mbah Warno. Bukan mbah Giyah, tapi mbah Warno. Orang dulu punya dua nama, nama gadis dan nama setelah menikah. Nah nama Warno adalah nama setelah menikah, begitu kira-kira asal muasalnya.

Berada di rumah mbah Warno bagaikan di rumah sendiri, kita memesan pecel langsung di dapur. Sayur pecel terdiri dari rebusan daun bayam, kenikir, daun pepaya, kembang turi daun kremak dan kecambah. Daun kremak dan kembang turi biasanya ada saat ketigo (kemarau) saja.

Sambalnya perpaduan kacang tanah, gula jawa da cabai rawit, mebuat mantap dan berselera.

Sebagai lauk, kita bisa memilih yang khas disini yaitu belut (welut) atau lele goreng. Oh ya… saat ini warung ini punya nama kekinian. Namanya Warung Pecel Baywatch… nah kenapa begitu. Ini ceritanya.

8. Soto Pak Sholeh Al Barokah

Salah satu makanan favorit saya adalah soto khas Jogja. Setiap saya mudik pulang kampung ke kota ini pasti tak lupa ngobatin rasa kangen dengan menyantap soto, baik itu soto ayam maupun daging sapi. Selain soto Pak Marto di Tejokusuman, Soto Sor Waru Bu Cip Patang Puluhan, Soto Pak Sabar Gedong Kuning, salah satu warung soto yang juga legendaris di Jogja dan menjadi jujugan pecinta kuliner adalah Soto Pak Sholeh Al Barokah Tegalrejo.

Tempatnya berada di Jalan Wiratama Tegalrejo, dekat museum Pangeran Diponegoro. Konon sejarah soto ini merupakan perwakilan dari sejarah soto khas Jogja itu sendiri. Pak Sholeh yang asal Kebumen merantau ke Kota Jogja tahun 1952. Mengawali jualan nasi sayur secara berkeliling dengan pikulan hingga akhirnya berjualan soto. Setelah sempat menempati warung di daerah Purwodiningratan, tahun 1980an pindah ke  Tegalrejo, bagian Barat Kota Jogja.

Soto Jogja dengan kecambag dan kuah beningnya memang menggugah selera. Dengan irisan daging sapi yang empuk, menjadikannya perpaduan soto yang tak terlupakan, terbukti mesti saya tinggal di Banjarmasin, selalu kangen dengan soto khas Jogja ini.

Semangkok soto pak Sholeh (IG@jogjafoodhunter)
Semangkok soto pak Sholeh (IG@jogjafoodhunter)

Ada anekdot bagi pecinta kuliner Jogja tentang bagaimana cara menentukan lezatnya makan di warung soto. Caranya dengan melihat berapa banyak kalender yang tertempel di dinding warung dan jenis pengunjungnya. Kedua hal tersebut terbukti di Warung Soto Pak Sholeh, seluruh dinding warung dipenuhi dengan kalender sponsor toko dan kebanyakan pengunjung pada jam-jam makan siang adalah PNS. Menandakan bahwa menu yang ditawarkan tidak mahal. Simpel kan ?

Kini Soto Pak Sholeh Al Barokah membuka beberapa cabang di Kota Jogja.

9. Oseng-oseng Mercon Bu Narti

Begitu mendengar namanya, pasti sudah diasosiasikan dengan rasa pedas yang sangat. ‘Mercon’ yang dimaksud pada nama ini tentu bukanlah semacam peledak atau petasan, melainkan sekedar istilah karena bila kita makan oseng-oseng mercon ini, maka perut dan lidah anda akan terasa meledak-ledak karena sensasi pedas yang disuguhkan.

Ya, memang porsi cabainya lebih banyak dari oseng-oseng biasa.

Para pengunjung yang duduk lesehan di atas tikar di pinggir jalan terlihat terengah-engah, sebagian matanya melotot. Beberapa sibuk mengelap peluh di keningnya. Padahal orang-orang ini bukan sedang berolahraga, mereka sedang makan malam. Ya, situasi ini terjadi di sebuah warung tenda di Jl. KH Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Makanan seperti apa rupanya yang membuat acara makan malam terlihat begitu melelahkan?

Kira-kira itulah efek dari oseng-oseng mercon olahan Bu Narti ini kini telah menjadi kuliner khas Yogyakarta. Berdiri sejak tahun 1998 saat negara ini sedang dilanda krisis ekonomi, demi meneruskan hidup setelah ditinggal mati sang suami. Hingga akhirnya masakan ini sekarang kondang hingga ke berbagai kota, menarik setiap pejalan untuk mencoba.

Dilihat dari tampilannya, sebenarnya hidangan ini terlihat biasa-biasa saja. Hanya nasi putih panas (kemebul) ditemani oseng-oseng sederhana berisi kikil, gajih, kulit, dan tulang muda. Orang Jogja menyebutnya koyoran. Terlihat sangat berminyak, ditambah kepungan irisan cabai rawit yang bijinya menempel di koyoran. Sedikit mengerikan memang. Bila didiamkan sebentar saja oseng-oseng ini akan membeku, kaku. Bukti kandungan lemak yang begitu banyak. Maka makanlah dengan cepat. Panas nasi putih juga bisa membantu memperlambat proses pembekuan lemak. Toh, makan mercon selezat ini mana bisa lambat-lambat, semua gerak cepat, tak sabar merasakan ledakan-ledakan selanjutnya. Menu lain yang tersedia adalah ayam, bebek, burung puyuh, dan lele.

Kapok ? Biasanya yang terjadi adalah Kapok lombok. Terengah-engah kepedesan begitu rupa, tapi tak mau berhenti. Dan besok rasanya ingin kembali, merasakan lagi ada mercon meledak di mulut.

Oseng mercon (kmstour.com)
Oseng mercon (ksmtour.com)

Warung Oseng-Oseng Mercon Bu Narti merupakan pelopor No 1 Oseng-Oseng Mercon di Yogyakarta.

10. Ayam Goreng Mbok Sabar

Saya cukup pusing untuk menentukan rumah makan ayam goreng khas Jogja. Banyak tempat dan semua enak…. Beberapa merek senior ada Bu Tini, Mbok Berek, Ny Suharti hingga Mbah Cemplung yang sekarang sedang kesohor.

Plang nama ayam goreng Mbok Sabar
Plang nama ayam goreng Mbok Sabar

Tapi kali ini saya ajak menuju Ayam Goreng Mok Sabar yang memang Jogja banget. Kenapa begitu ? Karena rasa manis ayam goreng disini mewakili cita rasa khas Jogja yang cenderung manis.

Banyak orang luar Jogja yang berseloroh “seperti makan ayam campur permen” hehe… Tapi itulah Jogja. Meski cenderung manis, tapi kegurihannya tetap tidak hilang. Di samping itu sambalnya tetap “nyamleng.”

7 thoughts on “10 Tempat Makan Enak di Jogja”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *