Al Baik, Ayam Goreng Favorit di Arab Saudi

Paket Ayam Goreng Al Baik

Shakkour Abu Ghazalah mungkin tak setenar Harland David “Colonel” Sanders. Al Baik pun  secara umum tak seterkenal KFC (Kentucky Fried Chicken). Akan tetapi di Saudi terjadi sebaliknya. Di sana resto fast food ayam goreng yang paling terkenal adalah Al Baik.

Menurut beberapa sumber, Al Baik didirikan oleh Shakkour Abu Ghazalah tahun 1974. Dulunya bernama “BROAST RESTAURANT” yang kemudian setelah tahun 1986 berubah nama menjadi Al Baik.

Al Baik, dominan merah dan kuning

Kisah Al Baik dimulai ketika Shakour Abu Ghazalah melihat ada kebutuhan makanan berkualitas tinggi yang terjangkau, disajikan cepat, bersih dan menarik.

Dengan prinsip menempatkan semua usaha keras dalam usaha ini, Shakour kemudian menandatangani perjanjian keagenan eksklusif dengan perusahaan luar negeri untuk penggunaan proprietary ayam goreng campuran rempah-rempah beserta peralatannya, menjadi yang pertama di pasar untuk memperkenalkan konsep ayam goreng di seluruh Arab Saudi.

Konon bisnis pertama Al Baik dimulai dari sebuah gudang tua yang terletak di Sharfiyah, Jeddah pada tahun 1974. Shakour tidak pernah pernah menyerah dan mengambil tantangan hingga menemukan solusi yang mengubah sebuah gudang tua yang disewanya di Airport Road Distrik Sharafiyah dan membuka Broast Restaurant pertama di Kerajaan Arab Saudi pada bulan September 1974.

Pada Maret 1976, Cabang pertama Broast Restaurantnya akhirnya dibuka di Gedung Al-Dakheel, daerah awal yang diplih untuk memulai kesuksesan rantai bisnisnya.

Pendiri Al Baik sendiri diceritakan meninggal tepat setelah pembukaan Restaurantnya. Lima bulan lamanya ia berjuang melawan kanker. Pada tanggal 14 Agustus tahun 1976, dia wafat pada usia 48 tahun. Kemudian bisnisnya dilanjutnya oleh anaknya yang bernama Ihsan Abu Ghazalah hingga berkembang pesat seperti sekarang. Kini resto ayam goreng dengan warna dominan merah dan kuning ini ada di 51 cabang (menurut wikipedia) di berbagai kota di Saudi Arabia. Di jalan-jalan juga banyak terlihat papan reklame (neon sign) merek ini menghiasi kota. Nah cerita sejarahnya segitu aja ya…

Kita Kembali ke Laptop.

Memang berburu ayam Al Baik bukanlah termasuk rangkaian ibadah haji atau umroh, bahkan sama sekali tidak masuk dalam jadwal tour ziarah, namun oleh sebagian orang hukumnya dianggap sunnah muakkad, hehe… becanda.

Terutama jamaah umroh asal Indonesia, rasanya tidak afdol jika tidak sekedar merasai ayam goreng Al Baik. Beberapa jamaah bahkan rela memesan secara kolektif ke Tour Leader untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Nah biasanya Tour Leader akan membeli saat berada di Jeddah menjelang kepulangan ke Indonesia. Oh ya, bahkan kalo anda kangen dengan Al Baik, beberapa toko online di market place Tokopedia atau Bukalapak ada yang menyediakan produk ini, tentu dengan  harga 2 atau 3 kali lipat, yah kan dikirim pakai pesawat, jadi harap maklum hehhe…

Kenapa demikian, konon karena tastenya yang disukai, yah penampakannya mirip2 Rocket Chicken di Indonesia hanya bedanya bumbu dana aroma rempahnya yang khas Saudi sangat terasa, plus saus garlic yang memang tidak lazim di Indonesia. Yang kedua, harganya memang sangat bersahabat, saat ini harga 1 paket berisi 4 potong ayam goreng, kentang dan roti hanya 13 SAR atau setara Rp. 52.000,- (Kurs 1 SAR = Rp. 4.000). Murah banget kan ? Harga 13 SAR udah termasuk pajak, eh Arab Saudi mungut pajak juga yah ? 🙂

Sore itu, Rabu 30 Januari 2019 sekitar pukul 5 sore sengaja berjalan kali untuk mencoba mencari outlet Al Baik terdekat. Setelah cari-cari di google map, akhirnya ketemu juga. Ternyata tidak terlalu jauh dengan hotel tempat saya menginap.  Jika ditarik garis lurus saya hitung jaraknya 700 meter saja, ah dekat saja pikir saya. Akhirnya saya berjalan kaki, ternyata dengan belok-beloknya hampir 1 km saya jalan kaki ke arah Selatan Makam Baki.

Al Baik ada dalam gedung ini (dokpri)

Tepatnya di King Faisal Road, kalo nggak salah di gedung Al Jazeera Complex namanya. Begitu sampai di sana saya coba tanya ke para pedagang di komplek perbelanjaan tersebut, ternyata outlet Al Baik dibagi beberapa bagian.

  • Second Floor untuk  Family Dine In
  • First Floor untuk Single Dine In
  • Ground Floor untuk Take Away

Nah tinggal sesuaikan kebutuhan anda, anda mau makan di tempat, berapa orang, atau mau beli untuk dibawa ke hotel. Waktu itu saya berniat membeli untuk saya makan di hotel bersama keluarga. Sesampainya di Ground Floor, naudubile… antrinya nggak ketulungan. Dan oleh karena hari sudah menjelang Maghrib, saya berpikir nggak akan sempet sholat di Masjid Nabawi jika saya nekat mengambil antrian, akhirnya saya putuskan untuk menundanya nanti malam selepas Isya. Akhirnya saya kembali ke hotel dengan tangan hampa…. Al Baik pun tertunda.

Singe Dine-In
Pilih sesuai kriteria anda

Malamnya tanpa ba bi bu, selepas makan malam saya pun nekat kembali ke Al Baik. Kali ini saya putuskan naik taksi. Mencegat taksi di depan hotel dan tak afdol jika tidak menawar, akhirnya sepakat 10 SAR dari harga awal 15 SAR saya pun meluncur mulus ke Al Baik.

Sesampai di sana, antrian bukannya makin susut, ternyata malah makin ramai. Konon Al Baik buka dari pukul 11 siang hingga pukul 2 dini hari. Ya sudahlah kepalang basah, akhirnya saya ikut berjejal dengan para lelaki bertubuh tinggi besar di situ. Saya celingak-celinguk tak satupun wajah melayu ada dalam antrian. Hahaa… nasib dah, diliatin orang-orang yang lagi antri karena saya pake blangkon malam itu. Emang nape ? Pengin ya ? hehe… Mungkin mereka lebih familier dengan kopiah khas Pakistan atau topi Usbekistan yang lebih sering mereka lihat ?

Antrian Al Baik (Dokpri)

30 menit akhirnya sampai juga di kasir pemesanan, dapet nomor antrian 636… eebusyeet. Pasrah deh akhirnya nunggu di tempat pengambilan pesanan. Oh ya, setelah jalur antrian pesanan (order) kita nanti melihat monitor pesanan yang sedang diproses sampai nomor berapa. Jika sudah dekat nomor kita, maka kita bisa segera masuk ke area pengambilan pesanan yang juga dijaga petugas dan harus memperlihatkan nomor antrian.

13 SAR sudah termasuk pajak, antrian nomor 636

Yang seru dan kadang lucu, meski saya nggak paham bahasanya, puluhan karyawan dan ratusan pengantri kadang berdebat, entah otot-ototan apa. Bicanya keras cenderung ngegas, tapi entahlah. Kadang sambil gebrak meja dan kahirnya teriak haaaaa…. atau huuuuu…. Udah, ikutan teriak aja, rame pokonya hehe.

Akhirnya setelah 30 menit menunggu (lagi) pesanan saya pun dapat. Jadi total saya mengantri 1 jam untuk mendapatkan 1 paket Al Baik seharga 13 SAR. Karena sudah cukup larut ternyata para sopir taksi tahu saya nggak mungkin jalan kaki, tarif taksi nggak ada yang mau ditawar seperti saat berangkat :(.

Sebelum dibuka, tuh kan dapet bonus 1 roti, di dalem dah ada rotinya 🙂

Sesampainya di hotel saya heran, kok isinya ada tambahan 1 roti lagi diluar paket. Hmm…. apa yang ngelayanin tadi kasihan gara2 melihat wajah memelas saya, atau melihat blangkon saya ? haha…

Oh ya, di Saudi banyak merek ayam goreng, seperti juga di Indonesia, warnanya pun mirip-mirip, jadi pastikan tulisannya Al Baik ya.

Medinah, 30 Januari 2019 Pkl. 22.30 Local Time

  • Al Baik (ambil/pilih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *