Cinta Satu Malam di Melaka

Secuil cerita ini memang sudah agak lama, tepatnya bulan Oktober 2014 yang lalu. Tak apalah telat sedikit, sekedar berbagi cerita saja.

Perjalanan kami diawali dari Kota Johor Bahru, kota paling Selatan di semenanjung Malaya. Perjalanan darat dari Johor Bahru (JB) ke Melaka biasa ditempuh 3 jam perjalanan darat nonstop, kurang lebih 218 km jaraknya. Jika tak percaye bisa diukur sendiri :). Dari beberapa referensi, sangat nyaman melakukan perjalanan dengan bus dari Johor Bahru ke Melaka. Bahkan dari Singapore sekalipun. Armada bus yang melayani trayek ini sangat OK, baik dari segi ketepatan waktu dan kenyamanan di dalam bus maupun di jalan, sebut saja Causeway Link, Transnasional, Delima, KKKL dan lainnya. Silakan pilih, tarifnya juga kurang lebih saja. Kebetulan kami melakukan perjalanan JB ke Melaka dengan bas persiaran hehe, bis pariwisata yang kami sewa, kira-kira begitu artinya.

Rute JB - Melaka
Rute JB – Malaka, 2 jam 32 mnt itu mas google ngebut 🙂

Oleh karena kami singgah beli oleh-oleh di Distrik Yong Peng, jadinya perjalanan kami tidak tepat 3 jam alias molor. Untuk Yong Peng akan saya ceritakan dalam kesempatan berbeda.

Jalur JB – Malaka ditempuh melalui jalan tol yang sangat mulus. Dari pengamatan sekilas saja dapat dipastikan bahwa pengelolaan jalan tol di Malaysia jauh lebih baik dari pada pengelolaan jalan tol di Indonesia. Oh ya nama jalan tolnya disebut Lebuh Raya Utara – Selatan. Tak ditemui sopir ugal-ugalan siperti di Indonesia di jalan tol ini, kecepatan bus juga tidak terlalu kencang seperti kejar setoran, paling sekitar 70 – 80 km per jam. Nyaman sekali pokoknya. Yang bikin tidak nyaman adalah pemandangan yang monoton, hanya kebun sawit di kiri-kanan jalan. Pantes pikir saya…. lahan di Malaysia sudah jadi kebun sawit semua, makanya mereka ekspansi ke Indonesia, gitu kali ya hehe…

Akhirnya tengah hari kami tiba di Melaka. Rehat makan siang sebentar, kemudian dilanjutkan melihat-lihat keelokan Melaka yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage (Kota Warisan Dunia).

Oleh karena waktu yang pendek karena kami harus mengejar waktu supaya tidak kemalaman tiba di KL. Jadi sebenarnya di Melaka ini kami hanya singgah saja. Tak banyak yang bisa kita kunjungi.

Kami didrop di seputar Christ Church Melaka. Jalan-jalan sebentar sambil foto-foto. Yang unik adalah becak di kota ini, semua berhias dengan bunga warna-warni. Beberapa becak bahkan dilengkapi dengan sound system yang disetel keras-keras. Macam pasar malam pula hehe. Kalo nggak salah sekali naik berkeliling dengan rute tertentu, tarifnya 15 – 20 RM, tergantung tawar menawar.  Saya nggak sempat mencoba naik becak Melaka.

Nah yang bikin aneh lagi adalah alunan musik yang keluar dari sound system becak-besak tersebut. Selain lagu-lagu Melayu, Hiphop dan house music, banyak juga lagu-lagu hits Indonesia yang diputar,  macam Sheila On 7, Noah bahkan “Cinta Satu Malam”nya Melinda. Ah… bukti bahwa untuk urusan musik, Indonesia masih satu langkah lebih maju dari Malaysia hehe… Bangga juga loh musik negeri kita disukai di negara tetangga.

Puas foto-foto sekalian sholat Dzuhur di sebuah mushala di seberang jalan, kami sepakat menyusuri sungai dengan naik perahu atau dikenal dengan  Melaka River Cruise. Sekitar 45 menit kami diajak menyusuri sungai di Melaka. Melihat sudut kota melalui sungai. Sungainya tidak terlalu lebar, tidak juga jernih airnya, tapi yang pasti bersih. Tidak terlihat sampah mengapung, kiri kanan sungai merupakan siring yang bisa dilalui pejalan kali. Dan yang pasti tidak ada aktivitas MCK di sepanjang sungai ini, seperti pada kebanyakan sungai di Indonesia. Terlihat banyak sekali kafe di sepanjang tepi sungai Melaka ini. Bersih dan indahnya sungai membuktikan bahwa mereka sudah mengelola sungai secara profesional menjadi komoditi pariwisata. Perahu yang disediakan bagi para pelancong berbahan fiber dan dicat warna warni dengan tema dan pastinya banyak pesan sponsor. Untuk pengelolaan wisata sungai, harus diakui Kota Melaka jauh lebih hebat dari kota-kota di Indonesia. Bahjarmasin misalnya, kota berjuluk Seribu Sungai ini hanya sebatas julukan saja. Dalam hal pengelolaan masih tertinggal sangat jauh. Padahal banyak sekali wisata yang bisa digarap dengan adanya sungai ini. Hmmmm… kok malah ngelantur ya, curhat kayaknya hehe…

Jujur saya sebagai warga Banjarmasin dengan sumber daya sungai yang lebih banyak dari Melaka merasa terkesan dengan pengelolaan sungai mereka, sekaligus iri tentunya. Kapaan sungai kita bisa bersih seperti di Melaka. Orang nggak lagi buang sampah ke sungai, nggak ada enceng gondok menutup alur sungai, nggak ada yang MCK di sungai, aaghrr…. Lagi-lagi merasa 10 tahun tertinggal dari negara jiran yang satu ini. 🙁

Puas keliling sungai, saatnya menuju bas persiaran lagi untuk melanjutkan perjalanan ke KL. Tapi kami sempet berfoto di beberapa spot yang ada di situ. Ada replika kapal Portugis dan lainnya.

Saatnya melanjutkan perjalanan ke KL. Dalam hati saya, sesama bangsa Melayu, makan sama nasi juga, perilaku dan tabiat kok jauh beda ya. Mudahan masih ada yang bisa dibanggakan dari bangsa ini selain “Cinta Satu Malam”nya Melinda tadi. (latepost)

dd
Dari sini nih keluar lagu Sephia dan Cinta Satu Malam (dokpri)
cc
Christ Church Melaka (dokpri)
ee
Dari sudut lainnya (dokpri)
aa
Semacam Titik Nol Km (dokpri)
gg
Bersih kotanya bikin iri hati  (dokpri)
ff
Bukan Jam Gadang pastinya (dokpri)
hh
Yang didepan bukan fokusnya 🙂 (dokpri)
ii
Benteng (dokpri)
jj
Kincir air Melaka, kalo malam lebih cantik dengan cahaya lampu  warna warni
ll
Kapan Sungai Martapura bisa bersih seperti ini
kk
Melaka River Cruise (dokpri)
mm
Kafe di sepanjang sungai (doskpri)
nn
Dihiasi grafiti (dokpri)
oo
Sudut lain (dokpri)
qq
View nan cantik, bikin iri
rr
Prewed di tepi sungai
ss
Replika kapal Portugis (dokpri)